ID Konservasi kelautan

Konservasi kelautan

 

Coral Triangle Day 9th June 2012.

This is what people in Labuan Bajo are doing to prepare that festive day.

Please join in whereever you are and help protect our oceans !

 

 

 

Samudra dan lautan terancam bahaya karena polusi, berkurangnya kehidupan biota laut, pergeseran samudra dan pergantian suhu panas bumi.

Tahun 2011 World Resources Institute mempublikasikan laporan tentang "Meninjau Bahaya terhadap Terumbuh Karang”, seatu uraian serta perkiraan tentang ancaman terhadap habitat terumbu karang.

 

"Dibawah naungan proyek Reefs at Risk Revisited, WRI dan rekanannya telah mengembangkan suatu tafsiran baru terhadap keberadaan dan bahaya yang mengancam dunia terumbu karang. Tujuan dari informasi ini, adalah untuk meingkatkan kewaspadaan tentang, lokasi dan kerusakan yang mengancam batu karang. Hasil dari analisa tersebut juga bisa dipakai sebagai pijakan atau dasar pertimbangan dalam mengubah dan menjalankan kebijaksanaan, sehingga bisa melindungi batu karang agar dapat bermanfa'at bagi generasi mendatang bermanfa'at bagi generasi mendatang.

 

Terumbu karang, seperti "hutan lindungnya laut" mereka adalah bagian dari makhluk hidup yang sangat bermanfa'at dan produktif bagi lingkungan hidup di bumi. Mereka memberi nilai bagi lingkungan hidup dan manfa'at bagi jutaan manusia yang hidup dipesisir pantai. Mereka menjadi sumber makanan dan penghasilan yang sangat berharga, mereka menjadi perawat bagi berbagai jenis ikan-ikan langkah yang diperdagangkan, menjadi daya tarik bagi penyelam dari seluruh dunia, menghasilkan pasir berkwalitas ditepi pantai, tempat turis berjemur, melindungi bibir pantai dari sapuan ombak besar.

Bagaimanapun, terumbu karang menghadapi ancaman yang serius, penyebab ancaman tersebut antara lain : 1. penangkapan ikan yang berlebihan 2. pembangunan daerah pantai, 3. semakin sempitnya daerah pertanian, dan 4. lalu lintas pelayaran. Sebagai tambahan,bahaya pergantian suhupanas bumi telah mulai memberi kontribusi terhadap ancaman pada lokasi terumbu karang dengan berbagai cara. Meningkatnya suhu laut telah menyebabkan kerusakan yang menyebar pada terumbu karang, suhu yang panas menyebabkan reaksi stress yang disebut pemutihan karang, dimana karang kehilangan beragam warna-warni, memancarkan kerangka putih mereka. Proyek ini akan diintensifkan sampai puluhan tahun mendatang.

Sebagai tambahan, meningkatnya jumlah carbon dioxide emissions (polusi air dan udara) perlahan-lahan menyebabkan naiknya tingkat keasaman dunia samudra lautan. Tingkat keasaman laut memperlambat laju pertumbuhan terumbu karang, dan bila tidak diperiksa/dicegah bahkan bisa menghambat kemampuan mereka untuk membentuk struktur fisik terumbu karang. Bila digabungkan ancaman yang disebabkan oleh ancaman lokal, panas bumi global dan dan tingkat keasaman karena polusi; dampaknya terhadapkerusakan terumbu karang akan meningkat, baik oleh karena badai, parasit dan penyakit. Penyebab kerusakan tersebut mengurangi wilayah kehidupan (habitat) terumbu karang, menambah populasi lumut, mengurangi ragam hayati laut dan ruang gerak ikan.

Sekalipun informasi akan bahaya terhadap kerusakan terumbuh karang disebarkan keseluruh dunia, namun detail mengenai jenis ancaman dan resiko pada setiap jenis terumbuh karang sangat terbatas, hal ini menghambat usaha perlindungan terhadap terumbuh karang. Para peneliti hanya mempelajari sebagian kecil dari jenis yang ada didunia terumbuh karang; sebagian kecil dari bagian yg diteliti telah diawasi dari waktu kewaktu dengan menggunakan methode yang konsisten dan intensive.

The WRI , serial "Terumbuh Karang Dalam Bahaya” dimulai pada tahun 1998, untuk mengisi kekosongan, dengan mengembangkan satu pemahaman tentang lokasi dan penyebar ancaman terhadap terumbuh karang diseluruh dunia, sekaligus menggambarkan hubungan antara kegiatan manusia, cara manusia mempertahankan hidup dan lingkungan terumbuh karang.

Berdasarkan pengetahuan ini, akan lebih mudah untuk menetapkan /menyusun rencana kerja untuk melindungi terumbuh karang.

 

Meninjau Bahaya Terhadap Terumbuh Karang adalah sebuah proyek WRI, yang mengembangkan dan melaksanakan program, bekerja sama dengan TNC ( Badan konservasi Alam) , World Fish Center ( Pusat Perikanan Dunia),ICRAN( Jaringan kerja sama Terumbuh Karang Internasional), UNEP-WCMC ( Bagian Lingkungan Hidup PBB, Pusat Monitor badan konservasi Dunia) dan GCRMN ( Badan pengawas Terumbuh Karang global).

Banyak agen pemerintah, organisasi international, badan penelitian, universitas, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan inisiatif yang menyumbangkan petunjuk ilmiah, sumbangan data dan hasil analisa."

 

Source: Reefs at Risk Revisited   

 

To read the full report click here

 

Are you a responsable diver ? Tool for diving operators

 

Links to other organizations

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

News/Berita 




Report Eco Flores Conference IV 
October 2015 Ruteng, Manggarai

          ***

Brosur Eco Flores Bahasa Indonesia 



             ***
Connected at
Platform Indonesia untuk Pencegahan 
dan Pengelolaan Limbah 
Indonesian Platform for Prevention and 
Management of Waste
Cross-sector stakeholder connection

Eco Flores is represented 
by Marta Muslin Tulis


    
            
               ***


Flores Homestay Network mentioned in
                     
              ***

Video impression Eco Flores Conference IV

             ***



Eco Flores Ambassador USA:
Kornelya Wells-Agus
kornelyawells@aol.com

              ***

Eco Flores online brochure
               

               ***

Eco Flores Conference IV
15-17 October 2015
Ruteng, Manggarai

                ***
Tentative program 
Eco Flores Conference IV
15-17 October 2015
Ruteng, Manggarai

                ***
September 2015 -
Komodo Eagle logo for 
collaborations Flores and
USA



                ***

March 2015 - 
established multi-stakeholder 
collaboration for capacity 
building and connecting 
Lembata to the network 
Eco Floresta



                  ***

Connecting for education

                  ***

"When you visit Indonesia please 
contribute to our environment 
by using a refillable water bottle"


                 ***


Responsible Tourism
Flores is listed on the 



Eco Flores contributes with 
the development 




          ***

Eco Flores Newsletter 2014
        ***
Follow us on Facebook

          ***



  ***

‘What is the right type of tourism 

development for 

Flores’s sustainable future?’ 


  ***
Report Eco Flores Conference III
16 to 18 October 2014
Maumere, Sikka


Print version available on request

nina@ecoflores.org


  ***


Progress for sustainability 


Eco Flores initiated 
a multi-stakeholder meeting to take place 
on 9 December 2014 
at Ministry of Tourism Indonesia with the goal : 
To establish a shared vision about What is the 
right type of tourism development for 
Flores’s sustainable future? and 
To initiate stakeholder collaboration for 
Collective Impact. 
Participating organisations: 
Ayo Indonesia - Burung Indonesia - DMO - 
Eco Flores Foundation - Indecon - ReefCheck - 
SwissContact - Yayasan Komodo Kita 
Wetlands Indonesia - WWF

       ***

Are you planning to visit Flores ?

Please read and share - 
You can support development of 
Flores Mountainbike Trail

      ***

WORKSHOP 
14 to 17 July in Leda, Ruteng
for info:
nina@ecoflores.org 



        ***

Green Indonesia 
workshops May 2014

     ***


Temporary Website

      ***



       ***



       ***


Newsletter December 2013

Link

 

           ***

 

From 26 to 29 September 2012 

we hosted the first Eco Flores  

Congress in Labuan Bajo

 

 

Report on Eco Flores Congress 2012

 

               ***

 

About Eco Flores Congress 2012 

and how Eco Flores evolved video

 

                ***

 

 

                ***

 

Participants at Eco Flores Congress I 

and their commitment

 

                ***

 

 

New Zealand Flores

Collaboration

Australia Flores

Collaboration 

 

Netherlands Flores

Collaboration