ID > Pengembangan masyarakat > LSM local Community Futures

Community Futures

 

 

Community Futures didirikan pada bulan Maret 2009 untuk membantu pembangunan daerah pedesaan di Ngada. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan kemungkinan sumber pendapatan baru dan pembangunan infrastruktur. Didirikan oleh Philipus Neri, LSM ini sekarang mempunyai 9 anggota aktif di Bajawa, yang sejauh ini bekerja secara sukarela.

 

Tujuan utama organisasi terletak pada pengembangan pariwisata sebagai sumber pendapatan baru. Oleh karena itu proyek pertama difokuskan pada pariwisata berbasis masyarakat, di desa Bela. Sejak itu Community Future juga telah memperluas bidang kerjanya ke beberapa bidang lain seperti pembangunan jalan baru, akses air, dan pertanian.

 

Proyek:

 

1. Proyek CBT di Bela

Proyek ini dimulai di April 2009. Pariwisata berbasis masyarakat bertujuan untuk menciptakan kemungkinan sumber pendapatan baru dengan menaikkan jumlah pengunjung ke desa. Pada saat yang bersamaan ini dapat melestarikan dan melindungi budaya lokal, juga dengan menginformasikan kepada wisatawan tentang budaya mereka. Hanya 8 kilometer dari kota Bajawa ke arah Bena, Bela sangat mudah dijangkau dengan mobil. Terletak di lembah antara Gunung Inerie dan Gunung Nariwono, disanalah terdapat sebuah pemandangan yang indah. Desa itu sendiri terdiri dari hampir 20 rumah tradisional Ngadha.

 

Aksi di Bela:

- Membangun kesadaran pariwisata di Bela

- Pembentukan asosiasi lokal untuk CBT untuk pengelolaan, monitoring, memastikan adanya kerjasama antara kelompok kerja dan kode etik

- Pembentukan kerja kelompok dengan komunitas lokal termasuk: tenun, kerajinan tangan, tar, pertanian, peternakan, pelatihan untuk beberapa kelompok berbeda.

- Evaluasi kemungkinan aktivitas trekking mulai dari Bela ke: sekeliling Bela: desa Namu, desa Suka Tei, gunung api Inerie. Pesisir selatan : desa adat Watu, Mangilewa, Jared dan Leke, dan juga beberapa pantai.

 

Promosi/ marketing di: Bappeda, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Agen perjalanan di Maumere dan Labuanbajo, workshop VSO di Bali dari tanggal 23 sampai 25 Maret 2010, pemandu wisata.

 

Pencapaian:

- Sekitar 40 wisatawan telah mengunjungi Bela melalui Community Future

- Sekelompok wisatawan berjumlah 18 orang telah datang melalui sebuah agen wisata di Jakarta

- Dua kelompok wisatawan berjumlah 4 orang telah datang melalui sebuah agen wisata di Bali

- 2 orang wisatawan telah datang datang melalui seorang pemandu wisata dari Labuanbajo

- Sisanya datang sebagai wisatawan individual

- Semua wisatwan bertanya mengenai tarian lokal, kerajinan tangan, dan tenun.

- Sejak April 2009 sampai dengan Oktober 2010, desa telah menerima sekitar 16 juta rupiah melalui proyek.

 

Rencana ke depan:

- Membangun sebuah bangunan sebagai pusat informasi bagi wisatawan dengan mempertimbangkan kebudayaan lokal dank ode etik juga sebagai tempat untuk menjual kerajinan tangan dan tenun

- Memperkenalkan sistem donasi sebagai alternative dari sistem tiket yang sudah ada

- Mendirikan sebuah play group, semacam sebuah taman kanak-kanak (TK)

- Mendorong penanaman kayu dan rumput ynag dibutuhkan untuk membuat atau memperbaiki rumah tradisional

- Mempromosikan berbagai jenis aktivitas trekking yang berbeda dimulai dari Bela 

 

 2) Proyek air di Watu, Aimere

Proyek air dilakukan dalam waktu enam bulan dimula dari 2009 sampai 2010. Proyek ini didanai secara pribadi oleh anggota LSM dan anggota Malcom Wyer. Tujuan untuk membuat jalur akses air langsung di desa Watu di desa Sebawuli serta Maghilewa dan Jere di desa Inerie telah berjalan dengan sukses. Proyek ini adalah proyej air pertama di seluruh NTT dengan menggunakan tenaga surya untuk memompa. Proyek ini dilakukan dalam kerjasama antara LSM dengan masyarakat setempat. Pembentukan asosiasi air Watu sebagai agen pengelola dan pemantau memastikan adanya partisipasi maksimal dari masyarakat setempat dalam pengimplementasian proyek. Secara keseluruhan, dua pipa telah terpasang, satu menuju Watu dan satu menuju Maghilewa dan Jere. Air dipompa ke tangki pusat di setiap desa-desa ini, sebagai akses langsung di desa. Untuk keberlanjutan proyek , semua desa telah setuju untuk membayar pajak bulanan ke asosiasi air, sebesar Rp 10.000,- per keluarga. Uang ini digunakan untuk membuat asosisasi air tetap berjalan dan untuk memperbaiki pipa yang rusak.

 

   

 

3) Proyek air di Leke, Aimere

Berdasarkan keberhasilan proyek air yang pertama, proyek lain telah dilakukan di desa Leke, Aimere di tahun 2010. Selama 3 bulan aktivitas dimulai dari bulan Mei, proyek ini menerima dana dari organisasi Katholik Francisan dari Belanda. Ditambah juga LSM menerima bantuan dari dua sukarelawan VSO Annouk Cleven dan Marc Fijin, yang telah berpartisipasi dalam proyek sebelumnya di Watu. Berdasarkan konsep sebelumnya, sebuah asosiasi air didirikan di Leke untuk mengelola kegiatan dan memantau perbaikan selanjutnya. Di Leke, warga desa telah setuju untuk membayar pajak bulanan sebasar Rp 5.000 per keluarga. Air itu disalurkan ke desa melalui pipa dari sumber mata air di atas bukit dengan gravitasi. Di dalam desa, air lalu didistribusikan ke setiap rumah. Selain itu, titik pusat akses air didirikan untuk setiap klan di sekitar lahan pertanian untuk irigasi. Pemerintah daerah menetapkan ini sebagai proyek percontohan di provincy Ngada. Di November 2010, proyek ini secara resmi dinyatakan berjalan selesai oleh Bupati. Untuk kesempatan ini, sebuah upacara besar diselenggarakan.   

 

 

4) Proyek Jalan

Sejak Maret hingga April 2010 sebuah proyek pembuatan jalan dilaksanakan dari bagian pesisir Sebawull ke Watu. Jalan ini memiliki panjang sekitar satu kilometer dibangun dengan semen. Jalan ini dikonstruksikan dengan fondasi awal yang telah ada namun rusak. Proyek didanai setengah dari donasi wisatawan yang dikumpulkan dalam kotak sumbangan. Dan setengah lainnya diterima dari wisatawan yang secara pribadi menyumbang secara langsung untuk proyek tersebut. Proyek ini dipandu oleh LSM bekerjasama dengan asosiasi air setempat, karena jalan juga digunakan untuk melindungi pipa yang dibuat untuk proyek air untuk melindungi pipa-pipa tersbut dari hujan besar dan tanah longsor. Jalan dibangun oleh penduduk desa. Pengelolaan lebih lanjut dilakukan dalam kerjasama dengan kepala desa dank karena itu bantuan dana dari pemerintah.

 

 

5) Proyek pertanian

Saat melakukan proyek air di Watu dan Leke, pada saat yang sama sebuah proyek pertanian kecil dibentuk. Pembentukan kelompok tani bertujuan untuk melatih, terutama perempuan, dalam menanam berbagai jenis sayuran baru untuk menciptakan kegiatan alternatif saat berjalan jauh ke mata air. Jalur akses air di desa-desa juga memastikan irigasi yang baik ke kebun sayuran. Selain itu warga desa Bela juga telah mulai menanam sayuran seperti tanaman tomat, terong dan kacang-kacangan. Proyek ini didanai oleh anggota Komunitas Futures.

 

 

6) Produksi ternak

 Tujuan proyek ini adalah untuk menjaga dan memperkuat sistem gotong royong lokal. Gagasan utamanya adalah untuk membangun pusat bangunan bambu dalam setiap desa di mana orang-orang dapat memelihara babi secara bersama di satu tempat sebagai milik seluruh desa. Jika dipelihara di bangunan bambu babi dapat dicegah untuk menghancurkan kebun ketika mencari makanan. Selain itu kotorannya dapat digunakan sebagai pupuk alami dan dengan demikian memberikan alternatif yang lebih ramah lingkungan menggantikan bahan kimia banyak digunakan. Sejauh ini lahan yang tidak terpakai dapat berfungsi sebagai ruang untuk menanam makanan untuk babi seperti pisang, kentang, talas dan jagung. Proyek ini telah dilakukan di Watu desa di Aimere dan Puboa di Mataloko. Bangunan telah didirikan oleh warga setempat didanai oleh LSM. Sampai dengan saat ini, warga desa menggunakan bangunan untuk memelihara babi mereka sendiri, namun karena keterbatasan dana LSM belum mampu memberikan mereka babi sebagai aset desa.

 

7) Lembaga kredit

Para anggota Komunitas Futures telah mengumpulkan dua puluh juta Rupiah untuk membangun sistem serikat kredit. Proyek ini telah dimulai di Langa, Bajawa. Kredit diberikan dalam berbagai hal, seperti untuk biaya sekolah, untuk masalah kesehatan dan industri rumah tangga, terutama bagi perempuan untuk membeli benang untuk menenun.

 

Struktur Organisasi

 

Anggota:

Direktur : Philipus Neri

Sekertaris : Maria Anggela

Bendahara : Rosalia Djawa

 

Wilhelmina Beku - gender

Franziskus Soli – hubungan sosial

Thomas Dara – dukungan teknis

Anus Day - tekstile

Michael Tallo - pariwisata

Oliva Ngadha – lembaga kredit

 

Anggota luar negeri:

Malcom Wyer (Amerika Serikat)

Mattheus Schut (Belanda)

Janina von Roemer (Jerman)

 

Kontak:Philip Neri 

Bajawa, Ngada, Flores

Community_futures@yahoo.co.id

News/Berita 



HIV-AIDS 

Labuan Bajo 
Workshop - VIDEO DAY 1
16 & 17 October 2017

Training of Facilitators
18 & 19 October 2017

Community Event
20 October 2017



        ***



Report Eco Flores Conference IV 
October 2015 Ruteng, Manggarai

          ***

Brosur Eco Flores Bahasa Indonesia 



             ***
Connected at
Platform Indonesia untuk Pencegahan 
dan Pengelolaan Limbah 
Indonesian Platform for Prevention and 
Management of Waste
Cross-sector stakeholder connection

Eco Flores is represented 
by Marta Muslin Tulis


    
            
               ***


Flores Homestay Network mentioned in
                     
              ***

Video impression Eco Flores Conference IV

             ***



Eco Flores Ambassador USA:
Kornelya Wells-Agus
kornelyawells@aol.com

              ***

Eco Flores online brochure
               

               ***

Eco Flores Conference IV
15-17 October 2015
Ruteng, Manggarai

                ***
Tentative program 
Eco Flores Conference IV
15-17 October 2015
Ruteng, Manggarai

                ***
September 2015 -
Komodo Eagle logo for 
collaborations Flores and
USA



                ***

March 2015 - 
established multi-stakeholder 
collaboration for capacity 
building and connecting 
Lembata to the network 
Eco Floresta



                  ***

Connecting for education

                  ***

"When you visit Indonesia please 
contribute to our environment 
by using a refillable water bottle"


                 ***


Responsible Tourism
Flores is listed on the 



Eco Flores contributes with 
the development 




          ***

Eco Flores Newsletter 2014
        ***
Follow us on Facebook

          ***



  ***

‘What is the right type of tourism 

development for 

Flores’s sustainable future?’ 


  ***
Report Eco Flores Conference III
16 to 18 October 2014
Maumere, Sikka


Print version available on request

nina@ecoflores.org


  ***


Progress for sustainability 


Eco Flores initiated 
a multi-stakeholder meeting to take place 
on 9 December 2014 
at Ministry of Tourism Indonesia with the goal : 
To establish a shared vision about What is the 
right type of tourism development for 
Flores’s sustainable future? and 
To initiate stakeholder collaboration for 
Collective Impact. 
Participating organisations: 
Ayo Indonesia - Burung Indonesia - DMO - 
Eco Flores Foundation - Indecon - ReefCheck - 
SwissContact - Yayasan Komodo Kita 
Wetlands Indonesia - WWF

       ***

Are you planning to visit Flores ?

Please read and share - 
You can support development of 
Flores Mountainbike Trail

      ***

WORKSHOP 
14 to 17 July in Leda, Ruteng
for info:
nina@ecoflores.org 



        ***

Green Indonesia 
workshops May 2014

     ***


Temporary Website

      ***



       ***



       ***


Newsletter December 2013

Link

 

           ***

 

From 26 to 29 September 2012 

we hosted the first Eco Flores  

Congress in Labuan Bajo

 

 

Report on Eco Flores Congress 2012

 

               ***

 

About Eco Flores Congress 2012 

and how Eco Flores evolved video

 

                ***

 

 

                ***

 

Participants at Eco Flores Congress I 

and their commitment

 

                ***

 

 

New Zealand Flores

Collaboration

Australia Flores

Collaboration 

 

Netherlands Flores

Collaboration